PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) resmi melakukan perombakan jajaran pimpinan. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung pada 17 Desember 2025, dengan agenda utama perubahan susunan direksi bank milik negara itu.
Salah satu keputusan penting dalam rapat tersebut adalah penunjukan Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari sebagai Wakil Direktur Utama BRI. Penunjukan ini menjadi bagian dari langkah strategis perusahaan dalam memperkuat struktur kepemimpinan. Viviana menggantikan posisi yang sebelumnya ditempati Agus Noorsanto, yang baru diangkat dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Maret 2025.
Sebelum menduduki jabatan barunya, Viviana dikenal sebagai Direktur Finance & Strategy BRI sejak 2021. Ia memiliki rekam jejak akademik yang solid, dengan gelar Master of Business Administration (MBA) dari University of Rochester, serta pendidikan sarjana dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Jawa Barat.
Perjalanan karier Viviana di BRI terbilang panjang dan strategis. Ia memulai kiprahnya pada 2017 sebagai Assistant Vice President Equity Management, kemudian dipercaya menjabat Vice President Desk Subsidiary Management pada periode 2018–2019. Kariernya terus menanjak hingga mengemban peran Executive Vice President Subsidiary Management, sebelum akhirnya ditunjuk sebagai direktur keuangan.
Penunjukan Viviana sebagai Wakil Direktur Utama juga mencerminkan komitmen BRI dalam mendorong kepemimpinan perempuan di level strategis. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya perusahaan menjaga keseimbangan gender di jajaran manajemen puncak. Viviana sendiri menilai keberagaman dalam kepemimpinan menjadi elemen penting dalam mendorong inovasi dan efektivitas organisasi.
“Kepemimpinan perempuan bukan semata soal kesetaraan, tetapi juga menghadirkan sudut pandang baru dalam proses pengambilan keputusan,” ujarnya dalam pernyataan kepada media.
Selama menjabat Direktur Finance & Strategy, Viviana berperan penting dalam penyusunan strategi bisnis BRI, khususnya yang berorientasi pada penguatan kinerja keuangan dan transformasi digital. Di bawah arah kebijakannya, BRI mampu menjaga kinerja positif dengan tren laba bersih yang terus tumbuh.
Tak hanya itu, BRI juga aktif memperluas jangkauan layanannya, termasuk pembukaan kantor cabang luar negeri di Taipei, serta pengembangan aplikasi BRImo yang kini semakin banyak digunakan oleh nasabah.
Dengan pengalaman dan kapabilitas yang dimiliki, pengangkatan Viviana Dyah Ayu Retno Kumalasari sebagai Wakil Direktur Utama diharapkan dapat memperkokoh visi BRI sebagai bank nasional yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di tengah dinamika industri keuangan.
Sebagai salah satu saham perbankan unggulan, BBRI memiliki rekam jejak panjang dalam hal pembagian dividen. Selama lebih dari sepuluh tahun terakhir, bank pelat merah ini tercatat selalu menyalurkan dividen kepada pemegang saham. Bahkan pada tahun buku 2023, rasio pembagian dividen atau dividend payout ratio (DPR) BBRI berada di level tinggi, yakni sekitar 85%.
Tak hanya konsisten, tingkat imbal hasil dividen BBRI juga menunjukkan tren yang semakin menarik. Pada tahun berjalan, dividen final yang dibagikan perseroan tercatat mampu memberikan dividend yield di atas 9%, menjadikannya salah satu saham perbankan dengan daya tarik kuat di tengah pasar modal.
Apabila tingkat pembagian dividen tersebut mampu dipertahankan hingga tahun buku 2025, dengan proyeksi earning per share (EPS) sekitar Rp358,75, maka total dividen yang berpotensi dibagikan diperkirakan mencapai Rp305 per saham. Mengingat BRI telah lebih dulu merealisasikan dividen interim sebesar Rp135 per saham, maka sisa dividen final yang berpeluang dibagikan berada di kisaran Rp170 per saham.
Jika skenario tersebut terealisasi, tambahan dividen final ini akan semakin mengerek total imbal hasil dividen BBRI, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu saham perbankan dengan rekam jejak pembagian dividen paling konsisten di pasar modal Indonesia.
Dari sisi kinerja keuangan, secara konsolidasi BRI membukukan laba bersih Rp41,23 triliun hingga akhir kuartal III-2025. Capaian tersebut tercatat mengalami penurunan 9,10% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp45,36 triliun.
Meski demikian, daya tarik BBRI tetap kuat, terutama dari sisi imbal hasil. Pada tahun berjalan, dividen final yang dibagikan tercatat mampu memberikan dividend yield di atas 9%, menjadikannya salah satu yang paling menarik di sektor perbankan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan bunga bersih BRI sepanjang sembilan bulan pertama 2025 mencapai Rp110,99 triliun, meningkat 2,9% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp107,86 triliun.
Di sisi penyaluran kredit, BRI mencatatkan total kredit sebesar Rp1.438,11 triliun hingga 30 September 2025, tumbuh 6,26% yoy. Dari jumlah tersebut, segmen UMKM masih menjadi tulang punggung, dengan penyaluran mencapai Rp1.150,73 triliun atau sekitar 80,02% dari total portofolio kredit.
Seiring ekspansi kredit tersebut, rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat mengalami kenaikan. NPL gross berada di level 3,29%, sementara NPL net tercatat sebesar 1,04%. Meski demikian, tingkat perlindungan risiko masih terjaga dengan NPL coverage mencapai 183,09%.
Pada sisi pendanaan, BRI berhasil menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.474,78 triliun pada kuartal III-2025, tumbuh 8,24% yoy. Struktur pendanaan juga tetap solid dengan porsi CASA mencapai 67,65%.
Dengan komposisi tersebut, loan to deposit ratio (LDR) BRI tercatat di level 87,05% per akhir September 2025. Sementara itu, total aset BRI terus bertambah hingga mencapai Rp2.123,45 triliun pada periode yang sama, mencerminkan skala usaha dan daya saing bank yang tetap kuat di tengah dinamika industri perbankan nasional.
